Kisah Retorika Dari Em Griffin

 

Sebenarnya tulisan ini adalah reading note saya ketika membaca bukunya Em Griffin. Saya berpikir, kalau catatan komputer yang saya ketik dalam bentuk reading note biasa, itu tidak akan banyak berguna. Harapan saya, dengan menulis sesedikit apapun ilmu yang saya dapatkan, akan membuat saya lebih mudah menancapkan dalam pikiran, dan juga mungkin bisa membantu orang lain dengan tulisan yang saya buat ini. Bacaan saya tentang buku Em Griffin ini langsung saya lompatkan pada bahasan Retorika, karena saya perlu memahami kajian ini. Tulisan ini nantinya akan banyak juga yang masih berasa terjemahan polos, namun juga di beberapa bagian akan saya tambahkan pemahaman-pemahaman saya untuk memudahkan dalam pembacaan maupun pemahaman dari tulisan tersebut. Griffin dalam tulisannya menceritakan tentang bagaimana munculnya Retorika Aristoteles yang belajar dari Plato. Berikut ini kisahnya:

 Aristoteles adalah murid Plato pada era keemasan peradaban Yunani kuno, yaitu 400 tahun sebelum Isa Almasih lahir. Aristoteles merupakan instruktur di akademi milik Plato yang disegani namun tidak sependapat dengan pemikiran Plato tentang public speaking di masyarakat Athena.

 Gambar 1. Aristoteles (www.hellenicnews.com)

Gambar 2. Plato (www.scienceworld.wolfram.com)

 Di masyarakat Athena waktu itu sangat dikenal yang dinamakan sophist.  Mereka adalah pengajar-pengajar pidato kepada para politisi dan pengacara. Mereka pada masa itu sangat dibutuhkan jasanya dan  melakukan pekerjaan tersebut dengan berpindah-pindah untuk melayani sebanyak mungkin orang yang membutuhkan jasa mereka. Beberapa hal dari para Sophist ini tidak disukai oleh Plato. Perasaan Plato tentang hal buruk dari akibat eksistensi para sophist  ini bisa kita lihat di masyarakat saat ini. Kita sering menilai mereka hanya melakukan retorika pada beberapa figur misalnya seorang pengacara culas, politikus penipu, dan sales yang melakukan penawaran dengan menyebalkan.

Gambar 3. Orator (www.phillipkay.files.wordpress.com)

Plato dan juga Aristoteles menyesalkan orang-orang yang menggunakan kemampuan berbicara untuk menggerakkan audience dengan tanpa menghiraukan kebenaran apa yang mereka ucapkan. Seperti yang telah diungkapkan di awal, Aristoteles berbeda pandangan dengan Plato bahwa ia lebih memandang bahwa retorika merupakan sesuatu yang netral, tidak buruk maupun tidak baik. Seorang orator yang menggunakan retorika akan mendapatkan hal yang sangat baik bagi dirinya dan juga masyarakat atau kebalikannya ia akan mendatangkan hal yang sangat buruk baik bagi dirinya ataupun masyarakat. Aristoteles percaya bahwa kebenaran memiliki kekuatan moral (moral superiority) dalam hal ini kebenaran akan lebih mudah diterima disbanding dengan kepalsuan. Seorang orator yang baik dan berjuang untuk kebenaran haruslah memiliki seni retorika dan menghindari kesalahan-kesalahan persuasi bila tidak ingin audience nya tertipu dan bahkan mengikuti orator jahat dan penipu.

Literatur pemikiran Aristoteles tentang Retorika masih sangat susah dipahami karena kurang tertata dengan baik bila dibandingkan literaturnya tentang etika ataupun tentang politik. Literatur tentang retorik ini nampaknya hanyalah susunan catatan perkuliahan yang ia buat di Akademi. Meskipun tulisan tersebut tidak tertata baik, namun retorika adalah kajian yang diminati pada ilmu Audience Psychology. Aristoteles membangun kajian Retorika dengan sistematis mengulas tentang efek dari speaker/orator, the speech/pidato, dan audience. Dia memahami penggunaan retorika oleh orator sebagai sebuah seni. Teks-teks dan pengajaran tentang public speaking  saat ini umumnya mengacu pada pemikiran Aristoteles yang dibangun 2300 tahun yang lalu.  

                                                                                                                                                (Bersambung…)

Referensi

Griffin, Em. 2006. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw-Hill.

https://hellenicnews.com/wp-content/uploads/2016/09/cuddeback2.jpg diakses pada 9 Februari 2017

http://scienceworld.wolfram.com/biography/pics/Plato.jpg diakses pada 9 Februari 2017

 https://phillipkay.files.wordpress.com/2013/11/5-raphael-st-paul-preaching-in-athens.jpg diakses pada 9 Februari 2017

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Berkenalan Dengan Semiotika

 Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Melihat definisi tersebut ada kata “tanda” yang merupakan hal yang akan selalu dibahas dari awal sampai akhir bila kita membahas tentang semiotika. Apakah yang membuat kita sebagai manusia membutuhkan pemahaman tentang tanda dan apakah tanda itu? Untuk menjawabnya kita perlu melihat hal ini secara lebih makro. Pertama kita melihat masyarakat. Masyarakat memiliki alat interaksi yaitu tanda. Anda bisa mengetahui nama saya (penulis) karena kita menggunakan tanda yang telah kita sepakati bersama masyarakat tentang huruf, cara membaca, dan bagaimana memaknainya. Anda bisa tahu dimana seharusnya anda buang air kecil di suatu mall dengan melihat tanda yang telah disepakati bersama entah itu berupa gambar ikonik laki-laki dan perempuan ataupun tanda yang berbentuk huruf yang berupa tulisan “toilet”.

Adanya tanda yang digunakan manusia merupakan bentuk komunikasi yang khas diciptakan oleh manusia dan tidak bisa digunakan dan tidak bisa dikenali dalam dunia hewan. Dengan tanda manusia bisa mengatur semua hal entah itu bendanya ada dihadapan manusia ataupun yang berada jauh darinya. Seorang ibu elang hanya bisa mengatur makanan anaknya pada saat makanan itu ada di mulutnya dan membaginya. Ibu manusia berbeda, ia bisa mengatur makanan untuk anaknya seminggu kemudian bahkan setahun kemudian dengan menggunakan sistem tanda yang ia gunakan walaupun ia berjauhan sekalipun dengan anaknya. Ibu manusia tadi menggunakan tanda yang digunakan bersama yaitu bahasa, lebih khususnya kalimat-kalimat permintaan tolong dengan pembantunya dan keluarganya, dan juga sistem tanda alat tukar yang biasa kita sebut uang. Seekor elang tidak mampu mengatur elang seluruh Indonesia karena ia tidak mempunyai sistem tanda sebagaimana manusia, namun seorang manusia bisa mengatur manusia se Indonesia dengan menggunakan sistem tanda yang sangat rumit dan disatukan dengan sistem-sistem yang lain dinamakan sistem negara. Tanda ini sangat krusial kita bisa bayangkan bagaimana jadinya ketika manusia tiba-tiba tidak bisa memanfaatkan tanda, kemungkinan kita akan sama dengan hewan dalam hal menjalankan kehidupan.

1 Gambar 1 Presiden. Dari rmol.co

 

Seperti yang bisa dicontohkan sebelumnya walaupun manusia memiliki keterbatasan fisik alamiah dalam hal jangkauan bepergian tidak seperti elang yang mampu bepergian jauh dengan terbang, namun dengan bantuan tanda jangkauan pengaruh manusia bisa sangat luas. Elang yang bisa terbang daya jangkaunya 12-28.8 km2 (Nurwatha dkk., 2000), sedangkan manusia yang tidak bisa terbang daya jangkau pengaruhnya bisa seluruh Indonesia bahkan dunia. Secara mudahnya tanda adalah  sesuatu yang digunakan manusia untuk mewakili sesuatu yang lain entah itu dalam bentuk abstrak atau berbentuk fisik. Contoh benda fisik yang digunakan manusia untuk mewakili hal lain sudah dijelaskan tadi misalnya tulisan “toilet” ataupun gambar ikonik pria dan perempuan yang mewakili suatu tempat yang digunakan manusia untuk membuang kotoran yang biasanya ditempatkan jauh dari keramaian atau dibagian belakang suatu gedung.

2Gambar 2 tanda toilet. Dari clipartfest.com

Begitu kuatnya pengaruh tanda inilah akhirnya manusia membangun ilmu yang mempelajari tanda tersebut. Tanda dalam ilmu Semiotika memiliki dua bagian, yaitu petanda dan penanda[1]. Penanda adalah aspek material dari bahasa. Sedangkan petanda adalah aspek mental sebuah bahasa, bisa berupa konsep, gambaran mental ataupun pikiran. Bisa dikatakan misalnya kalau kita ambil contoh tentang “peringatan anjing galak” maka objeknya adalah anjing penjaga entah itu anjing herder atau bulldog yang bisa menyerang penyusup kapan saja, penandanya bisa berupa gambar anjing sedangkan petandanya adalah konsep tentang anjing galak tersebut yang ada dipikiran kita, atau pemahaman di kepala kita tentang “anjing galak”

3

Gambar 3 tanda anjing galak. Dari alamy.com

Tanda juga bisa dibedakan dengan adanya perbedaan hubungan antara petanda dan penanda tersebut. Bila hubungan antara petanda dan penanda adalah hubungan yang memiliki kesamaan bentuk, maka tanda tersebut dinamakan ikon. Ikon bisa banyak kita lihat pada rambu-rambu lalu lintas. Misalkan petanda yang dimaksud adalah untuk berhati-hati terhadap pejalan kaki maka penandanya adalah:

4

gambar 4 tanda pejalan kaki. Dari ricesign.com

Sedangkan tanda yang dalam hubungan antara petanda dan penandanya bersifat alamiah atau bisa dikatakan ada hubungan sebab akibat, maka itu dinamakan indeks. Kita sering menggunakan tanda jenis indeks ini dalam memperhatikan ekspresi seseorang. Misalkan kita ambil contoh, tanda kemarahan. Ketika seseorang marah, maka ia menggunakan penanda dengan mengerutkan dahinya, memelototkan matanya, dan menggeretakkan giginya. Sedangkan petanda yang ada pada orang yang dimarahi adalah pemahaman bahwa ia sedang dimarahi seseorang dihadapannya.

5

Gambar 5 tanda  kemarahan. Dari Askideas.com

Kemudian jenis tanda berikutnya yang merupakan jenis yang paling rumit adalah simbol. Simbol ini antara penanda dan petandanya dibentuk dengan aturan ataupun kesepakatan-kesepakatan di masyarakat. Kita selalu menggunakan simbol dalam kehidupan kita, misalkan saat membaca kata “air” dalam tulisan  bahasa Indonesia. Maka penandanya adalah sosok huruf “a”, “i”, dan “r” yang disusun dengan aturan bahasa Indonesia tersebut. Petanda yang muncul adalah bayangan kita tentang benda yang umumnya berwarna jernih dan hampir bisa melarutkan semua benda lain, obat haus, dan sebagainya.

Ilmu semiotika ini memperkenalkan apa yang dinamakan semiosis, yaitu proses ketika tanda itu ditafsirkan sebagai wakil dari sesuatu. Semiosis ini bisa dikatakan proses triadik, yaitu melibatkan tiga hal, tanda, interpretasi, dan objek. Seperti yang telah menjadi contoh sebelumnya bahwa selalu ada objek yang diwakili, tanda yang mewakili, dan pemahaman atau hasil interpretasi terhadap  tanda tersebut. Ketiga hal ini dijelaskan dengan baik melalui model semantic triangle oleh I.A. Richards dan C.K. Ogden sebagai berikut:

6

Gambar 6 Segitiga Semantik. dari Em Griffin (2006).

Proses Semiosis diawali dengan adanya ground atau representamen yaitu hal/objek yang diindera. Kemudian setelah diolah secara instan, hasilnya dinamakan objek, dan pengolahan selanjutnya yang memakan beberapa waktu dalam prosesnya akan menghasilkan yang dinamakan interpretant. Proses penafsiran tanda inilah yang menjadi inti dari semiotika.

            Dalam penelitian, semiotika dibedakan menjadi dua (Pradopo, 1998), yaitu semiotika Signifikasi dan Semiotika Komunikasi. Semiotika Signifikasi lebih menekankan pada teori tanda dan pemahamannya dalam konteks tertentu. Selain itu Semiotika Signifikasi lebih menekankan proses kognisinya daripada proses komunikasi. Sedangkan Semiotika Komunikasi menekankan pada 6 elemen, yaitu pengirim, penerima, kode, pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan). Penelitian pada bidang komunikasi, misalnya pada media juga bisa dilakukan dengan menggunakan Semiotika. Praktik semiotika yang terjadi pada portal berita misalkan banyak menggunakan penghalusan-penghalusan penyampaian berita yang kalau diberitakan apa adanya akan kasar. Misalkan lebih banyak muncul kata-kata “penertiban” daripada kata “penggusuran” adalah bentuk penghalusan atau eufimisme yang mengindikasikan kuatnya pengaruh pemerintah dalam pemberitaan tersebut. Ataupun banyak munculnya kata-kata “keuntungan”, “kerugian”, dalam pemberitaan popular di masyarakat mengindikasikan ideologi kapitalisme sangat berpengaruh dalam pemberitaan dan juga pada masyarakat.

            Dari tulisan ini banyak yang bisa dibahas selanjutnya yaitu apa itu ground, objek, dan interpretant, bagaimana detail dari enam unsur Semiotika Komunikasi tersebut, nanti semoga penulis bisa melanjutkan tulisan ini dengan lebih jelas lagi. Terima Kasih..      

Pustaka:

            Griffin, Em. 2006. A First Look at Communication Theory: Sixth Edition. McGraw-Hill: New York.

Hoed, Benny H.2014. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya:Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, JuliaKristeva, Jacques Derrida, Charles Sanders Pierce, Marcel Danesi & Paul Perron, dll.Depok: Komunitas Bambu

Nurwatha, P.F, Rahman, Zaini, & Raharjaningtrah, Wahyu. 2000. Distribusi dan Populasi Elang Sulawesi Spizaetus Ianceolatus Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Yayasan Pribumi Alam Lestari: Bandung.

Pradopo, rachmat joko.1998 semiotika: teori metode dan lenerapannya. Jogjakarta jurbal ugm

https://clipartfest.com/categories/view/d7664efe593c80ecd120b999080f7f33870139f1/toilet-sign-clip-art.html diakses 25 Januari 2017 pukul 17:44

http://www.rmol.co/read/2015/07/24/210928/Prof.-Jeffrey-Winters:-Jokowi-Presiden-Terlemah-dalam-Sejarah-Indonesia- diakses 27 Januari pukul 2017 13:18

https://www.askideas.com/40-very-funny-donald-trump-pictures-that-will-make-you-laugh/ diakses 27 Januari pukul 21:11

https://www.ricesigns.com/school/school-and-pedestrian-safety-signs/w11-2.htm diakses 27 Januari 2017 pukul 21:20

 


[1] Penanda disebut juga signifier atau significant, sedangkan petanda disebut juga signified  atau signifié.

 

 

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Manipulasi Iklan Pada Pikiran Penonton

gizmo

gambar: www.streetfilms.org

Gambar tersebut adalah salah satu scene dari film Captain America. Apakah anda pernah berpikir bahwa terdapat banyak iklan yang bisa dimasukkan dalam sebuah scene film. Hal itu secara ilmiah ternyata memberikan efek yang sangat besar terhadap pemasaran dari produk dari logo-logo yang tampil dalam sebuah film. Tentunya dengan besarnya efek yang diterima oleh produk tersebut, logo-logo perusahaan yang tampil tidak dengan begitu saja bisa tampil dalam sebuah film dengan gratis. Pembuat film dan perusahaan tentu telah membuat kesepakatan-kesepakatan bisnis tentang hal itu.

Berikut penjelasan ilmiahnya. Sebuah penelitian tentang “Gizmo” (teknik memasukkan gambar sisipan/subliminal) yang dilakukan Fisher pada tahun 1956 (Shrum, 2010, h. 16-21). Ketika beberapa orang diberi paparan gambar sekilas tentang gambar dua kucing dan satu burung yang tersamarkan dalam rentang waktu 10 ms (mili detik). Walaupun tidak ada yang mengatakan bahwa mereka melihat burung tetapi siratan adanya gambar burung di memori beberapa orang tersebut. Ketika di stimulus dengan kata “dog” ada orang yang menggambar rumah dengan anjing penjaga namun model anjingnya berbuntut seperti burung ketika mereka disuruh menggambarkan bayangan mereka. Ketika di stimulus tentang kata bantal maka mereka merespon dengan kata bulu dan goresan lukisannya menyerupai burung, begitupun dengan stimulus sakit mereka menggambar pasien dengan lipatan selimut yang menggariskan bentuk burung. Psikolog modern berpendapat bahwa ketika orang tidak menangkap pola burung, itu mencerminkan sensitivitas rendah dari penonton. Ketika menjalani penelitian ini subjek penelitian bertanya-tanya bahwa mengapa dia terus menggambar seekor burung, dan dia sangat tahu bagaimana cara menggambar seekor anjing dan sering mengggambarnya.

Tentu merek-merek yang masuk dalam scene tersebut akan mempunyai efek yang cukup besar kepada penonton menurut penelitian ini. Merek tersebut diantaranya adalah McDonald dan juga merek mobil Acura. Gambar kecil tersebut tentu akan masuk ke dalam memori penonton dan suatu saat ketika penonton itu lapar atau akan membeli sebuah mobil  atau menyarankan pembelian mobill kepada orang terdekat, maka logo-logo yang telah masuk kedalam pikiran itu tentu akan lebih mendominasi pikiran mereka.

 

Pustaka:

Shrum, L.J. (2010). Psikologi Media Entertainment: Membedah Keampuhan Periklanan Subliminal dan Bujukan yang Tak Disadari Konsumen (1st ed.). (Ismanto, Terjemahan). Yogyakarta: Jalasutra.

Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Priming: Efek “Brainwash” Dalam Film

Sumber: http://blogs-images.forbes.com/davidalm/files/2016/03/unspecified-1-e1458906303540.jpg

Sumber Gambar: http://blogs-images.forbes.com/davidalm/files/2016/03/unspecified-1-e1458906303540.jpg

Film saat ini menjadi wadah dalam melakukan brainwash terhadap penontonnya. Film telah dimanfaatkan oleh produsen dari berbagai produk untuk membujuk penonton dengan tanpa disadari oleh calon konsumennya tersebut. Pernyataan ini tidak terlalu berlebihan. Persaingan ketat antar produk mengantarkan produsen untuk menempuh segala cara untuk membuat produknya terjual. Salah satu cara membujuk konsumen adalah memanipulasi alam bawah sadar calon konsumen. Bujukan itu dilakukan dengan menampilkan suatu gambar atau memperdengarkan suara tanpa disadari penonton. Tampilan yang ditunjukkan kepada penonton tanpa disadari oleh mereka menurut beberapa penelitian mampu mempengaruhi tindakan, termasuk pembelian. Ketidaksadaran penonton terhadap gambar atau suara ini terjadi karena durasi yg sangat singkat dari munculnya gambar atau suara tersebut. Pengaruh dari bujukan produsen ini dinamakan priming. (shrum,2010,h.86)
Priming ini bisa didapat setidaknya dengan tiga cara, yaitu priming perseptual, konseptual, dan juga emosional.

Priming perseptual misalnya didapat dari tampilan sekejap suatu merek mobil di latar belakang sebuah film bisa berpengaruh terhadap pembelian mobil. Priming perseptual ini akan memiliki dampak yg lebih besar bila semakin mirip antara tampilan dan produk.(bornstein et al.)

Cara kedua adalah priming konseptual. Cara ini dilakukan produsen dengan menampilkan konsep-konsep untuk mempengaruhi penonton. Konsep tentang manusia modern  seseorang didapat dari kebiasaan seseorang membawa pekerjaannya di sebuah cafe tertentu membuat orang rutin bekerja dengan menikmati suasana cafe.

Kemudian cara yg ketiga adalah memunculkan priming emosional. Cara ini dilakukan produsen dengan menampilkan ekspresi emosional pada tampilan produk di sebuah film. Tampilan seperti ini menurut penelitian zajonc menentukan tindakan termasuk pembelian.

Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Hello world!

Selamat Datang di Universitas Brawijaya. Ini adalah posting pertamaku

Categories: Uncategorized | 1 Comment