The Lord of Broken Heart Membalik Panggung Sosial

The Godfather of Broken Heart, The Lord of Broken Heart, Bapak Patah Hati Nasional, adalah sebutan popular saat ini tentang sosok pencipta lagu dan penyayi popular yang sempat meredup, yaitu Didi kempot. Sebutan ini tentunya berasal dari penggemarnya yang saat ini juga dinamai bermacam-macam oleh mereka sendiri, yaitu Kempoters, Sad boys dan Sad Girls, dan juga Sobat Ambyar. Saya tertarik menulis ini karena ada fenomena menarik saat ini. Pencipta lagu ini dan juga penyanyi ini adalah penyanyi langgam Jawa yang pada era sebelum saat ini hanya dinikmati oleh orang-orang tua, karena kesan tradisionalnya. Masyarakat saat ini dibuat terkejut dengan kepopuleran yang secara tiba-tiba seniman ini setelah acara off-air nya di prakarsai oleh seorang Youtuber.
Acara tersebut menampilkan Didi Kempot khusus dari dia menyanyikan lagu-lagu ciptaannya dan juga wawancara eksklusif dengannya. Dari acara tersebut ternyata pencetus acara yaitu Youtuber, Ghofar Hilman dan juga Didi Kempot sendiri tidak menyangka akan didatangi oleh lebih dari seribu penggemar dan juga didominasi anak muda, dan dengan lantang mereka menyanyikan lagu bersama-sama dan hafal. Fenomena ini coba diterjemahkan di dalam diskusi di acara tersebut yang disiarkan di Youtube dan juga diskusi yang dilanjutkan di salah satu acara tv nasional. Gofar sebagai konten creator Youtube pada mulanya ingin membuat acara off air pertamannya dari acara Youtube nya bersama seniman music yang sebelumnya dilakukan dengan format tertutup. Ia ingin mengadakan acara tersebut di Solo dan menghubungi salah satu musisi Solo, dan ia disarankan untuk mengundang Didi Kempot yang menurut dia menarik karena lagu-lagunya selalu diputar oleh anak-anak kos ketika di kosan, walaupun di luar kos-kosan mereka adalah penggemar lagu Rock, Hip-hop, dan juga Punk. Akhirnya ia mengadakan acara ini dan ternyata sambutannya memang sangat luar biasa di luar perkiraan yang hanya seratus orang menjadi seribu orang lebih.
Menurut saya ada fenomena menarik ini yaitu dibaliknya “panggung-panggung belakang” para anak muda jaman now oleh seorang social media influencer atau populernya disebut Youtuber. Konsep “panggung” saya peroleh dari keterangan Erving Goffman (1959) dalam jurnal Urick (2014) tentang bagaimana seseorang mempresentasikan diri di masyarakat. Ketika “di depan panggung”/ front stage setiap individu memerankan peran yang berbeda dari “di belakang panggung” back stage untuk memenuhi harapan masyarakat yang bergantung pada di generasi apa mereka masuk.
Hal menarik disini adalah sebelum acara Youtuber ini dibuat, pemuda-pemudi jaman now ini memiliki backstage atau area “belakang panggung” yang sama yaitu mereka memutar lagu didi kempot apalagi saat mereka patah hati. Hal ini kontras dengan area “depan panggung” atau front stage mereka yang mereka tunjukkan dengan menjadi penggemar music-musik yang lebih mencerminkan anak muda, seperti rock, punk, dan hip-hop. Kejelian pembacaan youtuber terhadap fenomena ini akhirnya memunculkan acara di Youtube nya dan langsung mendapat sambutan luar biasa dari para generasi jaman now ini. Seketika itu mereka tidak malu-malu lagi membalik “panggung” mereka masing-masing berbaur sesama mereka di acara tersebut, dan mengubah backstage menjadi front stage. Apabila ingin lebih memahami teori yang dimiliki Goffman ini ia melanjutkan bahwa tiap orang ingin selalu memenuhi harapan positif orang disekitarnya untuk mendapatkan manfaat untuk dirinya.
Analisis ringan ini tentu saja menurut saya bisa dikembangkan dengan lebih dalam kedalam penelitian-penelitian kedepan seperti peran social media influencer di masyarakat, perkembangan teori dramaturgy di era industri 4.0, Konten media pembalik struktur masyarakat, dan banyak lagi yang bisa diawali dari fenomena ini. Selamat berkarya di dunia ilmiah, semoga tulisan ringan ini bisa menginspirasi entah dalam meneliti atau mempelajari teori-teori sosial lebih jauh.

(Muhammad Irawan Saputra)

Sumber:

Urick, M.J. (2014). The Presentation of Self: Dramaturgical Theory and Generations in Organizations. Journal of Intergenerational Relationships, 12:398–412. Routledge.
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Membangun Peradaban Timur Dari Refleksi Barat

Masyarakat Barat dan masyarakat Timur memiliki dasar falsafah yang berbeda dalam menanggapi dunia, bahkan dalam banyak hal bertentangan.  Masyarakat Barat dengan kemajuannya saat ini mempunyai  fasafah hidup yang menjunjung tinggi kebebasan individu. Segala hal di dunia ini dipusatkan untuk mengusahakan bagaimana setiap individu bebas melakukan apapun sekehendak hatinya. Aturan-aturan yang berasal dari barat mengatur bagaimana tindakan individu walaupun diusahakan untuk bebas tetapi tidak saling mengganggu.

Berbeda dengan Barat, masyarakat Timur tidak menjadikan dirinya atau individu sebagai fokusnya dalam melihat dunia. Masyarakat timur mempunyai falsafah yang mementingkan hubungan-hubungan. Orang Timur menganggap sebuah hubungan lebih penting daripada eksistensi dirinya. Pandangan tersebut mengantarkan setiap individu dalam masyarakat Timur jauh lebih rela mengorbankan individualisnya termasuk nyawanya demi sebuah hubungan. Masyarakat Timur sangat mementingkan hubungan dirinya dengan Sesuatu diluar dirinya Yang Mengatur dan Menguasai seluruh alam, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam.

Dimanakah falsafah yang mampu memberikan kemajuan diantara keduanya? Pertanyaan itu mempunyai jawaban berdasarkan siapa yang menanyakan. Setiap individu maupun setiap bangsa akan  lebih mempunyai kekuatan diri bila ia mampu meletakkan setiap tindakannya diatas jati dirinya. Bangsa barat dengan konteks Barat-nya tentu sangat cocok dengan falsafah individualisnya, terbukti dengan kemajuan yang kini mereka rasakan.

Bangsa Timur saat ini terlihat menjadi bangsa kedua dalam banyak hal seperti, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesejahteraan ekonomi, dan kekuatan politik. Kenyataan ini tidak serta merta menjadikan falsafah Barat yang melandasi kemajuan tersebut menjadi lebih baik dibanding falsafah Timur. Keadaan ini sebenarnya hanyalah siklus peradaban yanng timbul tenggelam. Falsafah Timur dalam sejarah telah membuktikan diri bahwa ia mampu mendasari kemajuan Islam, China, India, dan kerajaan-kerajaan nusantara masa lampau.

Keadaan ini banyak mengaburkan pandangan masyarakat Timur dan berbondong-bondong memakai falsafah Barat secara instan. Penggunaan falsafah Barat oleh masyarakat Timur menciptakan jiwa-jiwa yang mengambang. Keadaan mengambang dan kegamangan ini terjadi karena dua falsafah yang saling berbenturan dalam satu jiwa.

Ketika individu Timur menggunakan falsafah Barat sebenarnya terjadi dua pegangan yang saling mengaburkan satu sama lain dalam satu jiwa. Keadaan ini membuat tidak adanya pegangan kuat di individu sehingga ia menjadi mengambang dalam hidupnya. Keadaan ini mempunyai rentetan panjang dalan konsekuensinya. Keadaan mengambang dan kegamangan jiwa ini membuat setiap individu kehilangan ketetapan hati dalam setiap tindakannya. Tidak adanya ketetapan hati ini membuat tindakan menjadi setengah-setengah. Hal inilah yang akhirnya mempengaruhi profesionalitas tindakan atau kerja.

Keadaan ini tentunya tiddak mudah untuk diperbaiki, namun tidak berarti tidak ada yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Setiap tindakan berasal dari pola pikir, dan pola pikir berdasar falsafah hidup yang dipegang. Untuk memperbaiki akan sangat tepat bila dimulai dengan kembali ke jati diri masing-masing, yaitu memegang falsafah sesuai dengan siapa diri kita. Pemilihan ini membutuhkan percaya diri yang tinggi untuk masyarakat Timur, karena saat ini waktu sedang memihak peradaban barat.

Peradaban barat saat ini memang masih menguasai dunia, namun saat inilah waktu yang tepat untuk masyarakat Timur bangkit, karena banyak hal yang menandakan bahwa kekuatan peradaban sedang bergeser ke Timur. Peradaban Timur bergerak maju dengan dipelopori Jepang, Korea Selatan, dan China. Berbeda dengan bangsa Barat yang mulai terlihat melemah. Saat inilah waktu yang tepat untuk setiap individu di masyarakat Timur untuk berpartisipasi membangun pondasi besar dan kuat yang nantinya  akan menopang gedung pencakar langit dari peradababan Timur, menggantikan pencakar langit peradaban barat yang sudah mulai runtuh.      

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Pengenalan Neurofilmology (Review jurnal)

dAloia, A., & Eugeni R.

Sekitar 20 tahun terakhir kajian cognitive neuroscience Mulai menverap pandangan humaniora dan ilmu social. Neurofilmology merupakan gabungan antara dua pemahaman tentang viewer model, viewer-as-mind (cognitive analytical approach) dan viewer-as-body (typical of phenomenological/continental approach).

Penelitian Neurofilmology pertama kali dilakukan dengan meneliti gelombang otak yang diukur dengan electroencephalography (EEG) pada tahun 1947. Hasil penelitian ini menyebutkan, gelombang otak yang tidak sinkron tidak hanya terjadi ketika subjek bergerak tetapi juga dipicu oleh pengamatan subjek dari gerakan yang ada di film (Gilbert Cohen).

Skeptisme terjadi pada penelitian ini dengan kritikan, pertama, EEG membuat peneliti menyembunyikan penjelasan dan hypothesis anatomical-neurological yang membuat interpretasinya tidak jelas.  Kedua, penelitian ini terlihat tidak berhubungan langsung pada aspek Filmology. Ketiga, sulitnya untuk menyamakan prosedur lab dengan kenyataan.

Hasil penelitian lain dimunculkan oleh Albert Michotte seorang ahli psikologi Belgia tentang ´real´ dan “emphaty” dan dinamai sebagai teori participation by perception. Ia menjelaskan dari penelitiannya di tahun 1948, bahwa kesan yang kuat didapatkan dari film berdasarkan gerak didalamnya dan hal itu dirasakan sebagai gerak sesungguhnya yang dirasakan oleh penontonnya.  Teori ini juga menunjukkan hubungan yang kuat dan saling tergantung antara motorik dan respon emosional penonton terhadap motorik dan aktivitas emosional karakter film. Teori ini berdasarkan pemahaman teori Gestalt dan Causalism.

Pada kesimpulannya, Filmologi membangun dialog antara ilmu empiris dan humaniora untuk mengkonseptualisasi dan menganalisis aktifitas menonton film. Kurangnya dasar epistemologis membuat filmologi kurang berkembang. Perbaikan dari masalah ini memerlukan dialog antara hard science dan humaniora dalam pembagian framework epistemologi yang konsisten. 

 

Perkembangan baru

Penelitian yang relatif baru dilakukan pada tahun 1990 oleh para psikolog Amerika, tentang pengalaman penonton sebagai aktivitas mental. Mereka dan para filosofis, mengadopsi perspektif post-computational cognitivist untuk menjelaskan bagaimana film dipahami secara mental oleh penonton. Pada tahun ini kajian tentang disembodied (kajian di luar fisik/biologis) yaitu mental experience dari film di konsolidasikan, walaupun fokus spesifiknya bergeser dari narasi kepada emosi dan persepsi visual, dan saat ini ada pada ranah perspektif ecological.

Alternatif kedua dari kajian penonton film dikembangkan oleh peneliti tentang aesthetical experience yang berdasarkan fenomenologi. Kajian ini didasarkan pada konsep embodied perception dari Marleu-Ponty. Dalam hal ini Bordwell secara singkat berpendapat bahwa  “the spectator thinks” atau sejumlah fenomenologis menyebutnya “the spectator feels” melalui fisiknya adalah sebuah lingkaran proses dari afeksi dan pemikiran. Pada konsep Deuleuzian (salah satu perspektif dalam Film Studies), hal ini merupakan bentuk “logic sensations” yang mengarah kepada pengalaman penonton, dan menghasilkan banyak pandangan teoritis.  

Kajian cognitivism dalam film, mengembangangkan model dasar neuroscientific pada kajian penonton film masuk dalam ranah psychocinematic,  yaitu sebuah evolusi alami dari kaitan antara attention, simulasi, empati/simpati, intentionality dan emosi oleh ahli film cognitivism.   Kajian Psychocinematic mengungkapkan bahwa kajian penonton film lebih berdasarkan pada karakteistik biologis dan psikologis dari spesies manusia, dan bentuk penelitiannya lebih condong kepada penelitian empiris. Kajian yang mempertemukan disiplin ahli film, psikolog, dan brain researchers lebih banyak mengarah kepada bagaimana film dipahami dan kurang menyentuh pada estetika pada aktivitas menonton film.

Studi fenomenologi berpendapat bahwa pemahaman dasar pada hasil penemuan neuroscientific adalah tentang proses yang kompleks dari pikiran manusia yang ditemukan pada konfigurasi otak dan fungsi dari hubungan-hubungan antar neuron (neural correlates). Hubungan yang konpleks tersebut berdasarkan pada hubungan fungsional antara observation of goal-directed actions atau emosi-emosi dan sensory motor of the observer. Implikasi filosofis dan psikologis dari fungsi “visuomotor neurons” menyebabkan terobosan pada pemahaman dari hubungan pikiran dan tubuh (mind-body) dan fenomena seperti kesadaran manusia, empati, intersubjektivitas, affect, dan respon pada estetika karya ilmiah. Gabungan antara aksi dan persepsi dimungkinkan oleh embodied simulation, sebuah dasar mekanisme fungsional dengan arti dimana system tubuh-pikiran kita membuat model tentang interaksinya dengan dunia.

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Kisah Retorika Dari Em Griffin

 

Sebenarnya tulisan ini adalah reading note saya ketika membaca bukunya Em Griffin. Saya berpikir, kalau catatan komputer yang saya ketik dalam bentuk reading note biasa, itu tidak akan banyak berguna. Harapan saya, dengan menulis sesedikit apapun ilmu yang saya dapatkan, akan membuat saya lebih mudah menancapkan dalam pikiran, dan juga mungkin bisa membantu orang lain dengan tulisan yang saya buat ini. Bacaan saya tentang buku Em Griffin ini langsung saya lompatkan pada bahasan Retorika, karena saya perlu memahami kajian ini. Tulisan ini nantinya akan banyak juga yang masih berasa terjemahan polos, namun juga di beberapa bagian akan saya tambahkan pemahaman-pemahaman saya untuk memudahkan dalam pembacaan maupun pemahaman dari tulisan tersebut. Griffin dalam tulisannya menceritakan tentang bagaimana munculnya Retorika Aristoteles yang belajar dari Plato. Berikut ini kisahnya:

 Aristoteles adalah murid Plato pada era keemasan peradaban Yunani kuno, yaitu 400 tahun sebelum Isa Almasih lahir. Aristoteles merupakan instruktur di akademi milik Plato yang disegani namun tidak sependapat dengan pemikiran Plato tentang public speaking di masyarakat Athena.

 Gambar 1. Aristoteles (www.hellenicnews.com)

Gambar 2. Plato (www.scienceworld.wolfram.com)

 Di masyarakat Athena waktu itu sangat dikenal yang dinamakan sophist.  Mereka adalah pengajar-pengajar pidato kepada para politisi dan pengacara. Mereka pada masa itu sangat dibutuhkan jasanya dan  melakukan pekerjaan tersebut dengan berpindah-pindah untuk melayani sebanyak mungkin orang yang membutuhkan jasa mereka. Beberapa hal dari para Sophist ini tidak disukai oleh Plato. Perasaan Plato tentang hal buruk dari akibat eksistensi para sophist  ini bisa kita lihat di masyarakat saat ini. Kita sering menilai mereka hanya melakukan retorika pada beberapa figur misalnya seorang pengacara culas, politikus penipu, dan sales yang melakukan penawaran dengan menyebalkan.

Gambar 3. Orator (www.phillipkay.files.wordpress.com)

Plato dan juga Aristoteles menyesalkan orang-orang yang menggunakan kemampuan berbicara untuk menggerakkan audience dengan tanpa menghiraukan kebenaran apa yang mereka ucapkan. Seperti yang telah diungkapkan di awal, Aristoteles berbeda pandangan dengan Plato bahwa ia lebih memandang bahwa retorika merupakan sesuatu yang netral, tidak buruk maupun tidak baik. Seorang orator yang menggunakan retorika akan mendapatkan hal yang sangat baik bagi dirinya dan juga masyarakat atau kebalikannya ia akan mendatangkan hal yang sangat buruk baik bagi dirinya ataupun masyarakat. Aristoteles percaya bahwa kebenaran memiliki kekuatan moral (moral superiority) dalam hal ini kebenaran akan lebih mudah diterima disbanding dengan kepalsuan. Seorang orator yang baik dan berjuang untuk kebenaran haruslah memiliki seni retorika dan menghindari kesalahan-kesalahan persuasi bila tidak ingin audience nya tertipu dan bahkan mengikuti orator jahat dan penipu.

Literatur pemikiran Aristoteles tentang Retorika masih sangat susah dipahami karena kurang tertata dengan baik bila dibandingkan literaturnya tentang etika ataupun tentang politik. Literatur tentang retorik ini nampaknya hanyalah susunan catatan perkuliahan yang ia buat di Akademi. Meskipun tulisan tersebut tidak tertata baik, namun retorika adalah kajian yang diminati pada ilmu Audience Psychology. Aristoteles membangun kajian Retorika dengan sistematis mengulas tentang efek dari speaker/orator, the speech/pidato, dan audience. Dia memahami penggunaan retorika oleh orator sebagai sebuah seni. Teks-teks dan pengajaran tentang public speaking  saat ini umumnya mengacu pada pemikiran Aristoteles yang dibangun 2300 tahun yang lalu.  

                                                                                                                                                (Bersambung…)

Referensi

Griffin, Em. 2006. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw-Hill.

https://hellenicnews.com/wp-content/uploads/2016/09/cuddeback2.jpg diakses pada 9 Februari 2017

http://scienceworld.wolfram.com/biography/pics/Plato.jpg diakses pada 9 Februari 2017

 https://phillipkay.files.wordpress.com/2013/11/5-raphael-st-paul-preaching-in-athens.jpg diakses pada 9 Februari 2017

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Berkenalan Dengan Semiotika

 Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Melihat definisi tersebut ada kata “tanda” yang merupakan hal yang akan selalu dibahas dari awal sampai akhir bila kita membahas tentang semiotika. Apakah yang membuat kita sebagai manusia membutuhkan pemahaman tentang tanda dan apakah tanda itu? Untuk menjawabnya kita perlu melihat hal ini secara lebih makro. Pertama kita melihat masyarakat. Masyarakat memiliki alat interaksi yaitu tanda. Anda bisa mengetahui nama saya (penulis) karena kita menggunakan tanda yang telah kita sepakati bersama masyarakat tentang huruf, cara membaca, dan bagaimana memaknainya. Anda bisa tahu dimana seharusnya anda buang air kecil di suatu mall dengan melihat tanda yang telah disepakati bersama entah itu berupa gambar ikonik laki-laki dan perempuan ataupun tanda yang berbentuk huruf yang berupa tulisan “toilet”.

Adanya tanda yang digunakan manusia merupakan bentuk komunikasi yang khas diciptakan oleh manusia dan tidak bisa digunakan dan tidak bisa dikenali dalam dunia hewan. Dengan tanda manusia bisa mengatur semua hal entah itu bendanya ada dihadapan manusia ataupun yang berada jauh darinya. Seorang ibu elang hanya bisa mengatur makanan anaknya pada saat makanan itu ada di mulutnya dan membaginya. Ibu manusia berbeda, ia bisa mengatur makanan untuk anaknya seminggu kemudian bahkan setahun kemudian dengan menggunakan sistem tanda yang ia gunakan walaupun ia berjauhan sekalipun dengan anaknya. Ibu manusia tadi menggunakan tanda yang digunakan bersama yaitu bahasa, lebih khususnya kalimat-kalimat permintaan tolong dengan pembantunya dan keluarganya, dan juga sistem tanda alat tukar yang biasa kita sebut uang. Seekor elang tidak mampu mengatur elang seluruh Indonesia karena ia tidak mempunyai sistem tanda sebagaimana manusia, namun seorang manusia bisa mengatur manusia se Indonesia dengan menggunakan sistem tanda yang sangat rumit dan disatukan dengan sistem-sistem yang lain dinamakan sistem negara. Tanda ini sangat krusial kita bisa bayangkan bagaimana jadinya ketika manusia tiba-tiba tidak bisa memanfaatkan tanda, kemungkinan kita akan sama dengan hewan dalam hal menjalankan kehidupan.

1 Gambar 1 Presiden. Dari rmol.co

 

Seperti yang bisa dicontohkan sebelumnya walaupun manusia memiliki keterbatasan fisik alamiah dalam hal jangkauan bepergian tidak seperti elang yang mampu bepergian jauh dengan terbang, namun dengan bantuan tanda jangkauan pengaruh manusia bisa sangat luas. Elang yang bisa terbang daya jangkaunya 12-28.8 km2 (Nurwatha dkk., 2000), sedangkan manusia yang tidak bisa terbang daya jangkau pengaruhnya bisa seluruh Indonesia bahkan dunia. Secara mudahnya tanda adalah  sesuatu yang digunakan manusia untuk mewakili sesuatu yang lain entah itu dalam bentuk abstrak atau berbentuk fisik. Contoh benda fisik yang digunakan manusia untuk mewakili hal lain sudah dijelaskan tadi misalnya tulisan “toilet” ataupun gambar ikonik pria dan perempuan yang mewakili suatu tempat yang digunakan manusia untuk membuang kotoran yang biasanya ditempatkan jauh dari keramaian atau dibagian belakang suatu gedung.

2Gambar 2 tanda toilet. Dari clipartfest.com

Begitu kuatnya pengaruh tanda inilah akhirnya manusia membangun ilmu yang mempelajari tanda tersebut. Tanda dalam ilmu Semiotika memiliki dua bagian, yaitu petanda dan penanda[1]. Penanda adalah aspek material dari bahasa. Sedangkan petanda adalah aspek mental sebuah bahasa, bisa berupa konsep, gambaran mental ataupun pikiran. Bisa dikatakan misalnya kalau kita ambil contoh tentang “peringatan anjing galak” maka objeknya adalah anjing penjaga entah itu anjing herder atau bulldog yang bisa menyerang penyusup kapan saja, penandanya bisa berupa gambar anjing sedangkan petandanya adalah konsep tentang anjing galak tersebut yang ada dipikiran kita, atau pemahaman di kepala kita tentang “anjing galak”

3

Gambar 3 tanda anjing galak. Dari alamy.com

Tanda juga bisa dibedakan dengan adanya perbedaan hubungan antara petanda dan penanda tersebut. Bila hubungan antara petanda dan penanda adalah hubungan yang memiliki kesamaan bentuk, maka tanda tersebut dinamakan ikon. Ikon bisa banyak kita lihat pada rambu-rambu lalu lintas. Misalkan petanda yang dimaksud adalah untuk berhati-hati terhadap pejalan kaki maka penandanya adalah:

4

gambar 4 tanda pejalan kaki. Dari ricesign.com

Sedangkan tanda yang dalam hubungan antara petanda dan penandanya bersifat alamiah atau bisa dikatakan ada hubungan sebab akibat, maka itu dinamakan indeks. Kita sering menggunakan tanda jenis indeks ini dalam memperhatikan ekspresi seseorang. Misalkan kita ambil contoh, tanda kemarahan. Ketika seseorang marah, maka ia menggunakan penanda dengan mengerutkan dahinya, memelototkan matanya, dan menggeretakkan giginya. Sedangkan petanda yang ada pada orang yang dimarahi adalah pemahaman bahwa ia sedang dimarahi seseorang dihadapannya.

5

Gambar 5 tanda  kemarahan. Dari Askideas.com

Kemudian jenis tanda berikutnya yang merupakan jenis yang paling rumit adalah simbol. Simbol ini antara penanda dan petandanya dibentuk dengan aturan ataupun kesepakatan-kesepakatan di masyarakat. Kita selalu menggunakan simbol dalam kehidupan kita, misalkan saat membaca kata “air” dalam tulisan  bahasa Indonesia. Maka penandanya adalah sosok huruf “a”, “i”, dan “r” yang disusun dengan aturan bahasa Indonesia tersebut. Petanda yang muncul adalah bayangan kita tentang benda yang umumnya berwarna jernih dan hampir bisa melarutkan semua benda lain, obat haus, dan sebagainya.

Ilmu semiotika ini memperkenalkan apa yang dinamakan semiosis, yaitu proses ketika tanda itu ditafsirkan sebagai wakil dari sesuatu. Semiosis ini bisa dikatakan proses triadik, yaitu melibatkan tiga hal, tanda, interpretasi, dan objek. Seperti yang telah menjadi contoh sebelumnya bahwa selalu ada objek yang diwakili, tanda yang mewakili, dan pemahaman atau hasil interpretasi terhadap  tanda tersebut. Ketiga hal ini dijelaskan dengan baik melalui model semantic triangle oleh I.A. Richards dan C.K. Ogden sebagai berikut:

6

Gambar 6 Segitiga Semantik. dari Em Griffin (2006).

Proses Semiosis diawali dengan adanya ground atau representamen yaitu hal/objek yang diindera. Kemudian setelah diolah secara instan, hasilnya dinamakan objek, dan pengolahan selanjutnya yang memakan beberapa waktu dalam prosesnya akan menghasilkan yang dinamakan interpretant. Proses penafsiran tanda inilah yang menjadi inti dari semiotika.

            Dalam penelitian, semiotika dibedakan menjadi dua (Pradopo, 1998), yaitu semiotika Signifikasi dan Semiotika Komunikasi. Semiotika Signifikasi lebih menekankan pada teori tanda dan pemahamannya dalam konteks tertentu. Selain itu Semiotika Signifikasi lebih menekankan proses kognisinya daripada proses komunikasi. Sedangkan Semiotika Komunikasi menekankan pada 6 elemen, yaitu pengirim, penerima, kode, pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan). Penelitian pada bidang komunikasi, misalnya pada media juga bisa dilakukan dengan menggunakan Semiotika. Praktik semiotika yang terjadi pada portal berita misalkan banyak menggunakan penghalusan-penghalusan penyampaian berita yang kalau diberitakan apa adanya akan kasar. Misalkan lebih banyak muncul kata-kata “penertiban” daripada kata “penggusuran” adalah bentuk penghalusan atau eufimisme yang mengindikasikan kuatnya pengaruh pemerintah dalam pemberitaan tersebut. Ataupun banyak munculnya kata-kata “keuntungan”, “kerugian”, dalam pemberitaan popular di masyarakat mengindikasikan ideologi kapitalisme sangat berpengaruh dalam pemberitaan dan juga pada masyarakat.

            Dari tulisan ini banyak yang bisa dibahas selanjutnya yaitu apa itu ground, objek, dan interpretant, bagaimana detail dari enam unsur Semiotika Komunikasi tersebut, nanti semoga penulis bisa melanjutkan tulisan ini dengan lebih jelas lagi. Terima Kasih..      

Pustaka:

            Griffin, Em. 2006. A First Look at Communication Theory: Sixth Edition. McGraw-Hill: New York.

Hoed, Benny H.2014. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya:Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, JuliaKristeva, Jacques Derrida, Charles Sanders Pierce, Marcel Danesi & Paul Perron, dll.Depok: Komunitas Bambu

Nurwatha, P.F, Rahman, Zaini, & Raharjaningtrah, Wahyu. 2000. Distribusi dan Populasi Elang Sulawesi Spizaetus Ianceolatus Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Yayasan Pribumi Alam Lestari: Bandung.

Pradopo, rachmat joko.1998 semiotika: teori metode dan lenerapannya. Jogjakarta jurbal ugm

https://clipartfest.com/categories/view/d7664efe593c80ecd120b999080f7f33870139f1/toilet-sign-clip-art.html diakses 25 Januari 2017 pukul 17:44

http://www.rmol.co/read/2015/07/24/210928/Prof.-Jeffrey-Winters:-Jokowi-Presiden-Terlemah-dalam-Sejarah-Indonesia- diakses 27 Januari pukul 2017 13:18

https://www.askideas.com/40-very-funny-donald-trump-pictures-that-will-make-you-laugh/ diakses 27 Januari pukul 21:11

https://www.ricesigns.com/school/school-and-pedestrian-safety-signs/w11-2.htm diakses 27 Januari 2017 pukul 21:20

 


[1] Penanda disebut juga signifier atau significant, sedangkan petanda disebut juga signified  atau signifié.

 

 

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Manipulasi Iklan Pada Pikiran Penonton

gizmo

gambar: www.streetfilms.org

Gambar tersebut adalah salah satu scene dari film Captain America. Apakah anda pernah berpikir bahwa terdapat banyak iklan yang bisa dimasukkan dalam sebuah scene film. Hal itu secara ilmiah ternyata memberikan efek yang sangat besar terhadap pemasaran dari produk dari logo-logo yang tampil dalam sebuah film. Tentunya dengan besarnya efek yang diterima oleh produk tersebut, logo-logo perusahaan yang tampil tidak dengan begitu saja bisa tampil dalam sebuah film dengan gratis. Pembuat film dan perusahaan tentu telah membuat kesepakatan-kesepakatan bisnis tentang hal itu.

Berikut penjelasan ilmiahnya. Sebuah penelitian tentang “Gizmo” (teknik memasukkan gambar sisipan/subliminal) yang dilakukan Fisher pada tahun 1956 (Shrum, 2010, h. 16-21). Ketika beberapa orang diberi paparan gambar sekilas tentang gambar dua kucing dan satu burung yang tersamarkan dalam rentang waktu 10 ms (mili detik). Walaupun tidak ada yang mengatakan bahwa mereka melihat burung tetapi siratan adanya gambar burung di memori beberapa orang tersebut. Ketika di stimulus dengan kata “dog” ada orang yang menggambar rumah dengan anjing penjaga namun model anjingnya berbuntut seperti burung ketika mereka disuruh menggambarkan bayangan mereka. Ketika di stimulus tentang kata bantal maka mereka merespon dengan kata bulu dan goresan lukisannya menyerupai burung, begitupun dengan stimulus sakit mereka menggambar pasien dengan lipatan selimut yang menggariskan bentuk burung. Psikolog modern berpendapat bahwa ketika orang tidak menangkap pola burung, itu mencerminkan sensitivitas rendah dari penonton. Ketika menjalani penelitian ini subjek penelitian bertanya-tanya bahwa mengapa dia terus menggambar seekor burung, dan dia sangat tahu bagaimana cara menggambar seekor anjing dan sering mengggambarnya.

Tentu merek-merek yang masuk dalam scene tersebut akan mempunyai efek yang cukup besar kepada penonton menurut penelitian ini. Merek tersebut diantaranya adalah McDonald dan juga merek mobil Acura. Gambar kecil tersebut tentu akan masuk ke dalam memori penonton dan suatu saat ketika penonton itu lapar atau akan membeli sebuah mobil  atau menyarankan pembelian mobill kepada orang terdekat, maka logo-logo yang telah masuk kedalam pikiran itu tentu akan lebih mendominasi pikiran mereka.

 

Pustaka:

Shrum, L.J. (2010). Psikologi Media Entertainment: Membedah Keampuhan Periklanan Subliminal dan Bujukan yang Tak Disadari Konsumen (1st ed.). (Ismanto, Terjemahan). Yogyakarta: Jalasutra.

Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Priming: Efek “Brainwash” Dalam Film

Sumber: http://blogs-images.forbes.com/davidalm/files/2016/03/unspecified-1-e1458906303540.jpg

Sumber Gambar: http://blogs-images.forbes.com/davidalm/files/2016/03/unspecified-1-e1458906303540.jpg

Film saat ini menjadi wadah dalam melakukan brainwash terhadap penontonnya. Film telah dimanfaatkan oleh produsen dari berbagai produk untuk membujuk penonton dengan tanpa disadari oleh calon konsumennya tersebut. Pernyataan ini tidak terlalu berlebihan. Persaingan ketat antar produk mengantarkan produsen untuk menempuh segala cara untuk membuat produknya terjual. Salah satu cara membujuk konsumen adalah memanipulasi alam bawah sadar calon konsumen. Bujukan itu dilakukan dengan menampilkan suatu gambar atau memperdengarkan suara tanpa disadari penonton. Tampilan yang ditunjukkan kepada penonton tanpa disadari oleh mereka menurut beberapa penelitian mampu mempengaruhi tindakan, termasuk pembelian. Ketidaksadaran penonton terhadap gambar atau suara ini terjadi karena durasi yg sangat singkat dari munculnya gambar atau suara tersebut. Pengaruh dari bujukan produsen ini dinamakan priming. (shrum,2010,h.86)
Priming ini bisa didapat setidaknya dengan tiga cara, yaitu priming perseptual, konseptual, dan juga emosional.

Priming perseptual misalnya didapat dari tampilan sekejap suatu merek mobil di latar belakang sebuah film bisa berpengaruh terhadap pembelian mobil. Priming perseptual ini akan memiliki dampak yg lebih besar bila semakin mirip antara tampilan dan produk.(bornstein et al.)

Cara kedua adalah priming konseptual. Cara ini dilakukan produsen dengan menampilkan konsep-konsep untuk mempengaruhi penonton. Konsep tentang manusia modern  seseorang didapat dari kebiasaan seseorang membawa pekerjaannya di sebuah cafe tertentu membuat orang rutin bekerja dengan menikmati suasana cafe.

Kemudian cara yg ketiga adalah memunculkan priming emosional. Cara ini dilakukan produsen dengan menampilkan ekspresi emosional pada tampilan produk di sebuah film. Tampilan seperti ini menurut penelitian zajonc menentukan tindakan termasuk pembelian.

Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Hello world!

Selamat Datang di Universitas Brawijaya. Ini adalah posting pertamaku

Categories: Uncategorized | 1 Comment