browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Berkenalan Dengan Semiotika

Posted by on January 27, 2017

 Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Melihat definisi tersebut ada kata “tanda” yang merupakan hal yang akan selalu dibahas dari awal sampai akhir bila kita membahas tentang semiotika. Apakah yang membuat kita sebagai manusia membutuhkan pemahaman tentang tanda dan apakah tanda itu? Untuk menjawabnya kita perlu melihat hal ini secara lebih makro. Pertama kita melihat masyarakat. Masyarakat memiliki alat interaksi yaitu tanda. Anda bisa mengetahui nama saya (penulis) karena kita menggunakan tanda yang telah kita sepakati bersama masyarakat tentang huruf, cara membaca, dan bagaimana memaknainya. Anda bisa tahu dimana seharusnya anda buang air kecil di suatu mall dengan melihat tanda yang telah disepakati bersama entah itu berupa gambar ikonik laki-laki dan perempuan ataupun tanda yang berbentuk huruf yang berupa tulisan “toilet”.

Adanya tanda yang digunakan manusia merupakan bentuk komunikasi yang khas diciptakan oleh manusia dan tidak bisa digunakan dan tidak bisa dikenali dalam dunia hewan. Dengan tanda manusia bisa mengatur semua hal entah itu bendanya ada dihadapan manusia ataupun yang berada jauh darinya. Seorang ibu elang hanya bisa mengatur makanan anaknya pada saat makanan itu ada di mulutnya dan membaginya. Ibu manusia berbeda, ia bisa mengatur makanan untuk anaknya seminggu kemudian bahkan setahun kemudian dengan menggunakan sistem tanda yang ia gunakan walaupun ia berjauhan sekalipun dengan anaknya. Ibu manusia tadi menggunakan tanda yang digunakan bersama yaitu bahasa, lebih khususnya kalimat-kalimat permintaan tolong dengan pembantunya dan keluarganya, dan juga sistem tanda alat tukar yang biasa kita sebut uang. Seekor elang tidak mampu mengatur elang seluruh Indonesia karena ia tidak mempunyai sistem tanda sebagaimana manusia, namun seorang manusia bisa mengatur manusia se Indonesia dengan menggunakan sistem tanda yang sangat rumit dan disatukan dengan sistem-sistem yang lain dinamakan sistem negara. Tanda ini sangat krusial kita bisa bayangkan bagaimana jadinya ketika manusia tiba-tiba tidak bisa memanfaatkan tanda, kemungkinan kita akan sama dengan hewan dalam hal menjalankan kehidupan.

1 Gambar 1 Presiden. Dari rmol.co

 

Seperti yang bisa dicontohkan sebelumnya walaupun manusia memiliki keterbatasan fisik alamiah dalam hal jangkauan bepergian tidak seperti elang yang mampu bepergian jauh dengan terbang, namun dengan bantuan tanda jangkauan pengaruh manusia bisa sangat luas. Elang yang bisa terbang daya jangkaunya 12-28.8 km2 (Nurwatha dkk., 2000), sedangkan manusia yang tidak bisa terbang daya jangkau pengaruhnya bisa seluruh Indonesia bahkan dunia. Secara mudahnya tanda adalah  sesuatu yang digunakan manusia untuk mewakili sesuatu yang lain entah itu dalam bentuk abstrak atau berbentuk fisik. Contoh benda fisik yang digunakan manusia untuk mewakili hal lain sudah dijelaskan tadi misalnya tulisan “toilet” ataupun gambar ikonik pria dan perempuan yang mewakili suatu tempat yang digunakan manusia untuk membuang kotoran yang biasanya ditempatkan jauh dari keramaian atau dibagian belakang suatu gedung.

2Gambar 2 tanda toilet. Dari clipartfest.com

Begitu kuatnya pengaruh tanda inilah akhirnya manusia membangun ilmu yang mempelajari tanda tersebut. Tanda dalam ilmu Semiotika memiliki dua bagian, yaitu petanda dan penanda[1]. Penanda adalah aspek material dari bahasa. Sedangkan petanda adalah aspek mental sebuah bahasa, bisa berupa konsep, gambaran mental ataupun pikiran. Bisa dikatakan misalnya kalau kita ambil contoh tentang “peringatan anjing galak” maka objeknya adalah anjing penjaga entah itu anjing herder atau bulldog yang bisa menyerang penyusup kapan saja, penandanya bisa berupa gambar anjing sedangkan petandanya adalah konsep tentang anjing galak tersebut yang ada dipikiran kita, atau pemahaman di kepala kita tentang “anjing galak”

3

Gambar 3 tanda anjing galak. Dari alamy.com

Tanda juga bisa dibedakan dengan adanya perbedaan hubungan antara petanda dan penanda tersebut. Bila hubungan antara petanda dan penanda adalah hubungan yang memiliki kesamaan bentuk, maka tanda tersebut dinamakan ikon. Ikon bisa banyak kita lihat pada rambu-rambu lalu lintas. Misalkan petanda yang dimaksud adalah untuk berhati-hati terhadap pejalan kaki maka penandanya adalah:

4

gambar 4 tanda pejalan kaki. Dari ricesign.com

Sedangkan tanda yang dalam hubungan antara petanda dan penandanya bersifat alamiah atau bisa dikatakan ada hubungan sebab akibat, maka itu dinamakan indeks. Kita sering menggunakan tanda jenis indeks ini dalam memperhatikan ekspresi seseorang. Misalkan kita ambil contoh, tanda kemarahan. Ketika seseorang marah, maka ia menggunakan penanda dengan mengerutkan dahinya, memelototkan matanya, dan menggeretakkan giginya. Sedangkan petanda yang ada pada orang yang dimarahi adalah pemahaman bahwa ia sedang dimarahi seseorang dihadapannya.

5

Gambar 5 tanda  kemarahan. Dari Askideas.com

Kemudian jenis tanda berikutnya yang merupakan jenis yang paling rumit adalah simbol. Simbol ini antara penanda dan petandanya dibentuk dengan aturan ataupun kesepakatan-kesepakatan di masyarakat. Kita selalu menggunakan simbol dalam kehidupan kita, misalkan saat membaca kata “air” dalam tulisan  bahasa Indonesia. Maka penandanya adalah sosok huruf “a”, “i”, dan “r” yang disusun dengan aturan bahasa Indonesia tersebut. Petanda yang muncul adalah bayangan kita tentang benda yang umumnya berwarna jernih dan hampir bisa melarutkan semua benda lain, obat haus, dan sebagainya.

Ilmu semiotika ini memperkenalkan apa yang dinamakan semiosis, yaitu proses ketika tanda itu ditafsirkan sebagai wakil dari sesuatu. Semiosis ini bisa dikatakan proses triadik, yaitu melibatkan tiga hal, tanda, interpretasi, dan objek. Seperti yang telah menjadi contoh sebelumnya bahwa selalu ada objek yang diwakili, tanda yang mewakili, dan pemahaman atau hasil interpretasi terhadap  tanda tersebut. Ketiga hal ini dijelaskan dengan baik melalui model semantic triangle oleh I.A. Richards dan C.K. Ogden sebagai berikut:

6

Gambar 6 Segitiga Semantik. dari Em Griffin (2006).

Proses Semiosis diawali dengan adanya ground atau representamen yaitu hal/objek yang diindera. Kemudian setelah diolah secara instan, hasilnya dinamakan objek, dan pengolahan selanjutnya yang memakan beberapa waktu dalam prosesnya akan menghasilkan yang dinamakan interpretant. Proses penafsiran tanda inilah yang menjadi inti dari semiotika.

            Dalam penelitian, semiotika dibedakan menjadi dua (Pradopo, 1998), yaitu semiotika Signifikasi dan Semiotika Komunikasi. Semiotika Signifikasi lebih menekankan pada teori tanda dan pemahamannya dalam konteks tertentu. Selain itu Semiotika Signifikasi lebih menekankan proses kognisinya daripada proses komunikasi. Sedangkan Semiotika Komunikasi menekankan pada 6 elemen, yaitu pengirim, penerima, kode, pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan). Penelitian pada bidang komunikasi, misalnya pada media juga bisa dilakukan dengan menggunakan Semiotika. Praktik semiotika yang terjadi pada portal berita misalkan banyak menggunakan penghalusan-penghalusan penyampaian berita yang kalau diberitakan apa adanya akan kasar. Misalkan lebih banyak muncul kata-kata “penertiban” daripada kata “penggusuran” adalah bentuk penghalusan atau eufimisme yang mengindikasikan kuatnya pengaruh pemerintah dalam pemberitaan tersebut. Ataupun banyak munculnya kata-kata “keuntungan”, “kerugian”, dalam pemberitaan popular di masyarakat mengindikasikan ideologi kapitalisme sangat berpengaruh dalam pemberitaan dan juga pada masyarakat.

            Dari tulisan ini banyak yang bisa dibahas selanjutnya yaitu apa itu ground, objek, dan interpretant, bagaimana detail dari enam unsur Semiotika Komunikasi tersebut, nanti semoga penulis bisa melanjutkan tulisan ini dengan lebih jelas lagi. Terima Kasih..      

Pustaka:

            Griffin, Em. 2006. A First Look at Communication Theory: Sixth Edition. McGraw-Hill: New York.

Hoed, Benny H.2014. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya:Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, JuliaKristeva, Jacques Derrida, Charles Sanders Pierce, Marcel Danesi & Paul Perron, dll.Depok: Komunitas Bambu

Nurwatha, P.F, Rahman, Zaini, & Raharjaningtrah, Wahyu. 2000. Distribusi dan Populasi Elang Sulawesi Spizaetus Ianceolatus Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Yayasan Pribumi Alam Lestari: Bandung.

Pradopo, rachmat joko.1998 semiotika: teori metode dan lenerapannya. Jogjakarta jurbal ugm

https://clipartfest.com/categories/view/d7664efe593c80ecd120b999080f7f33870139f1/toilet-sign-clip-art.html diakses 25 Januari 2017 pukul 17:44

http://www.rmol.co/read/2015/07/24/210928/Prof.-Jeffrey-Winters:-Jokowi-Presiden-Terlemah-dalam-Sejarah-Indonesia- diakses 27 Januari pukul 2017 13:18

https://www.askideas.com/40-very-funny-donald-trump-pictures-that-will-make-you-laugh/ diakses 27 Januari pukul 21:11

https://www.ricesigns.com/school/school-and-pedestrian-safety-signs/w11-2.htm diakses 27 Januari 2017 pukul 21:20

 


[1] Penanda disebut juga signifier atau significant, sedangkan petanda disebut juga signified  atau signifié.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>