browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Kisah Retorika Dari Em Griffin

Posted by on February 9, 2017

 

Sebenarnya tulisan ini adalah reading note saya ketika membaca bukunya Em Griffin. Saya berpikir, kalau catatan komputer yang saya ketik dalam bentuk reading note biasa, itu tidak akan banyak berguna. Harapan saya, dengan menulis sesedikit apapun ilmu yang saya dapatkan, akan membuat saya lebih mudah menancapkan dalam pikiran, dan juga mungkin bisa membantu orang lain dengan tulisan yang saya buat ini. Bacaan saya tentang buku Em Griffin ini langsung saya lompatkan pada bahasan Retorika, karena saya perlu memahami kajian ini. Tulisan ini nantinya akan banyak juga yang masih berasa terjemahan polos, namun juga di beberapa bagian akan saya tambahkan pemahaman-pemahaman saya untuk memudahkan dalam pembacaan maupun pemahaman dari tulisan tersebut. Griffin dalam tulisannya menceritakan tentang bagaimana munculnya Retorika Aristoteles yang belajar dari Plato. Berikut ini kisahnya:

 Aristoteles adalah murid Plato pada era keemasan peradaban Yunani kuno, yaitu 400 tahun sebelum Isa Almasih lahir. Aristoteles merupakan instruktur di akademi milik Plato yang disegani namun tidak sependapat dengan pemikiran Plato tentang public speaking di masyarakat Athena.

 Gambar 1. Aristoteles (www.hellenicnews.com)

Gambar 2. Plato (www.scienceworld.wolfram.com)

 Di masyarakat Athena waktu itu sangat dikenal yang dinamakan sophist.  Mereka adalah pengajar-pengajar pidato kepada para politisi dan pengacara. Mereka pada masa itu sangat dibutuhkan jasanya dan  melakukan pekerjaan tersebut dengan berpindah-pindah untuk melayani sebanyak mungkin orang yang membutuhkan jasa mereka. Beberapa hal dari para Sophist ini tidak disukai oleh Plato. Perasaan Plato tentang hal buruk dari akibat eksistensi para sophist  ini bisa kita lihat di masyarakat saat ini. Kita sering menilai mereka hanya melakukan retorika pada beberapa figur misalnya seorang pengacara culas, politikus penipu, dan sales yang melakukan penawaran dengan menyebalkan.

Gambar 3. Orator (www.phillipkay.files.wordpress.com)

Plato dan juga Aristoteles menyesalkan orang-orang yang menggunakan kemampuan berbicara untuk menggerakkan audience dengan tanpa menghiraukan kebenaran apa yang mereka ucapkan. Seperti yang telah diungkapkan di awal, Aristoteles berbeda pandangan dengan Plato bahwa ia lebih memandang bahwa retorika merupakan sesuatu yang netral, tidak buruk maupun tidak baik. Seorang orator yang menggunakan retorika akan mendapatkan hal yang sangat baik bagi dirinya dan juga masyarakat atau kebalikannya ia akan mendatangkan hal yang sangat buruk baik bagi dirinya ataupun masyarakat. Aristoteles percaya bahwa kebenaran memiliki kekuatan moral (moral superiority) dalam hal ini kebenaran akan lebih mudah diterima disbanding dengan kepalsuan. Seorang orator yang baik dan berjuang untuk kebenaran haruslah memiliki seni retorika dan menghindari kesalahan-kesalahan persuasi bila tidak ingin audience nya tertipu dan bahkan mengikuti orator jahat dan penipu.

Literatur pemikiran Aristoteles tentang Retorika masih sangat susah dipahami karena kurang tertata dengan baik bila dibandingkan literaturnya tentang etika ataupun tentang politik. Literatur tentang retorik ini nampaknya hanyalah susunan catatan perkuliahan yang ia buat di Akademi. Meskipun tulisan tersebut tidak tertata baik, namun retorika adalah kajian yang diminati pada ilmu Audience Psychology. Aristoteles membangun kajian Retorika dengan sistematis mengulas tentang efek dari speaker/orator, the speech/pidato, dan audience. Dia memahami penggunaan retorika oleh orator sebagai sebuah seni. Teks-teks dan pengajaran tentang public speaking  saat ini umumnya mengacu pada pemikiran Aristoteles yang dibangun 2300 tahun yang lalu.  

                                                                                                                                                (Bersambung…)

Referensi

Griffin, Em. 2006. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw-Hill.

https://hellenicnews.com/wp-content/uploads/2016/09/cuddeback2.jpg diakses pada 9 Februari 2017

http://scienceworld.wolfram.com/biography/pics/Plato.jpg diakses pada 9 Februari 2017

 https://phillipkay.files.wordpress.com/2013/11/5-raphael-st-paul-preaching-in-athens.jpg diakses pada 9 Februari 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>