browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Membangun Peradaban Timur Dari Refleksi Barat

Masyarakat Barat dan masyarakat Timur memiliki dasar falsafah yang berbeda dalam menanggapi dunia, bahkan dalam banyak hal bertentangan.  Masyarakat Barat dengan kemajuannya saat ini mempunyai  fasafah hidup yang menjunjung tinggi kebebasan individu. Segala hal di dunia ini dipusatkan untuk mengusahakan bagaimana setiap individu bebas melakukan apapun sekehendak hatinya. Aturan-aturan yang berasal dari barat mengatur bagaimana tindakan individu walaupun diusahakan untuk bebas tetapi tidak saling mengganggu.

Berbeda dengan Barat, masyarakat Timur tidak menjadikan dirinya atau individu sebagai fokusnya dalam melihat dunia. Masyarakat timur mempunyai falsafah yang mementingkan hubungan-hubungan. Orang Timur menganggap sebuah hubungan lebih penting daripada eksistensi dirinya. Pandangan tersebut mengantarkan setiap individu dalam masyarakat Timur jauh lebih rela mengorbankan individualisnya termasuk nyawanya demi sebuah hubungan. Masyarakat Timur sangat mementingkan hubungan dirinya dengan Sesuatu diluar dirinya Yang Mengatur dan Menguasai seluruh alam, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam.

Dimanakah falsafah yang mampu memberikan kemajuan diantara keduanya? Pertanyaan itu mempunyai jawaban berdasarkan siapa yang menanyakan. Setiap individu maupun setiap bangsa akan  lebih mempunyai kekuatan diri bila ia mampu meletakkan setiap tindakannya diatas jati dirinya. Bangsa barat dengan konteks Barat-nya tentu sangat cocok dengan falsafah individualisnya, terbukti dengan kemajuan yang kini mereka rasakan.

Bangsa Timur saat ini terlihat menjadi bangsa kedua dalam banyak hal seperti, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesejahteraan ekonomi, dan kekuatan politik. Kenyataan ini tidak serta merta menjadikan falsafah Barat yang melandasi kemajuan tersebut menjadi lebih baik dibanding falsafah Timur. Keadaan ini sebenarnya hanyalah siklus peradaban yanng timbul tenggelam. Falsafah Timur dalam sejarah telah membuktikan diri bahwa ia mampu mendasari kemajuan Islam, China, India, dan kerajaan-kerajaan nusantara masa lampau.

Keadaan ini banyak mengaburkan pandangan masyarakat Timur dan berbondong-bondong memakai falsafah Barat secara instan. Penggunaan falsafah Barat oleh masyarakat Timur menciptakan jiwa-jiwa yang mengambang. Keadaan mengambang dan kegamangan ini terjadi karena dua falsafah yang saling berbenturan dalam satu jiwa.

Ketika individu Timur menggunakan falsafah Barat sebenarnya terjadi dua pegangan yang saling mengaburkan satu sama lain dalam satu jiwa. Keadaan ini membuat tidak adanya pegangan kuat di individu sehingga ia menjadi mengambang dalam hidupnya. Keadaan ini mempunyai rentetan panjang dalan konsekuensinya. Keadaan mengambang dan kegamangan jiwa ini membuat setiap individu kehilangan ketetapan hati dalam setiap tindakannya. Tidak adanya ketetapan hati ini membuat tindakan menjadi setengah-setengah. Hal inilah yang akhirnya mempengaruhi profesionalitas tindakan atau kerja.

Keadaan ini tentunya tiddak mudah untuk diperbaiki, namun tidak berarti tidak ada yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Setiap tindakan berasal dari pola pikir, dan pola pikir berdasar falsafah hidup yang dipegang. Untuk memperbaiki akan sangat tepat bila dimulai dengan kembali ke jati diri masing-masing, yaitu memegang falsafah sesuai dengan siapa diri kita. Pemilihan ini membutuhkan percaya diri yang tinggi untuk masyarakat Timur, karena saat ini waktu sedang memihak peradaban barat.

Peradaban barat saat ini memang masih menguasai dunia, namun saat inilah waktu yang tepat untuk masyarakat Timur bangkit, karena banyak hal yang menandakan bahwa kekuatan peradaban sedang bergeser ke Timur. Peradaban Timur bergerak maju dengan dipelopori Jepang, Korea Selatan, dan China. Berbeda dengan bangsa Barat yang mulai terlihat melemah. Saat inilah waktu yang tepat untuk setiap individu di masyarakat Timur untuk berpartisipasi membangun pondasi besar dan kuat yang nantinya  akan menopang gedung pencakar langit dari peradababan Timur, menggantikan pencakar langit peradaban barat yang sudah mulai runtuh.      

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*