browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Pengenalan Neurofilmology (Review jurnal)

dAloia, A., & Eugeni R.

Sekitar 20 tahun terakhir kajian cognitive neuroscience Mulai menverap pandangan humaniora dan ilmu social. Neurofilmology merupakan gabungan antara dua pemahaman tentang viewer model, viewer-as-mind (cognitive analytical approach) dan viewer-as-body (typical of phenomenological/continental approach).

Penelitian Neurofilmology pertama kali dilakukan dengan meneliti gelombang otak yang diukur dengan electroencephalography (EEG) pada tahun 1947. Hasil penelitian ini menyebutkan, gelombang otak yang tidak sinkron tidak hanya terjadi ketika subjek bergerak tetapi juga dipicu oleh pengamatan subjek dari gerakan yang ada di film (Gilbert Cohen).

Skeptisme terjadi pada penelitian ini dengan kritikan, pertama, EEG membuat peneliti menyembunyikan penjelasan dan hypothesis anatomical-neurological yang membuat interpretasinya tidak jelas.  Kedua, penelitian ini terlihat tidak berhubungan langsung pada aspek Filmology. Ketiga, sulitnya untuk menyamakan prosedur lab dengan kenyataan.

Hasil penelitian lain dimunculkan oleh Albert Michotte seorang ahli psikologi Belgia tentang ´real´ dan “emphaty” dan dinamai sebagai teori participation by perception. Ia menjelaskan dari penelitiannya di tahun 1948, bahwa kesan yang kuat didapatkan dari film berdasarkan gerak didalamnya dan hal itu dirasakan sebagai gerak sesungguhnya yang dirasakan oleh penontonnya.  Teori ini juga menunjukkan hubungan yang kuat dan saling tergantung antara motorik dan respon emosional penonton terhadap motorik dan aktivitas emosional karakter film. Teori ini berdasarkan pemahaman teori Gestalt dan Causalism.

Pada kesimpulannya, Filmologi membangun dialog antara ilmu empiris dan humaniora untuk mengkonseptualisasi dan menganalisis aktifitas menonton film. Kurangnya dasar epistemologis membuat filmologi kurang berkembang. Perbaikan dari masalah ini memerlukan dialog antara hard science dan humaniora dalam pembagian framework epistemologi yang konsisten. 

 

Perkembangan baru

Penelitian yang relatif baru dilakukan pada tahun 1990 oleh para psikolog Amerika, tentang pengalaman penonton sebagai aktivitas mental. Mereka dan para filosofis, mengadopsi perspektif post-computational cognitivist untuk menjelaskan bagaimana film dipahami secara mental oleh penonton. Pada tahun ini kajian tentang disembodied (kajian di luar fisik/biologis) yaitu mental experience dari film di konsolidasikan, walaupun fokus spesifiknya bergeser dari narasi kepada emosi dan persepsi visual, dan saat ini ada pada ranah perspektif ecological.

Alternatif kedua dari kajian penonton film dikembangkan oleh peneliti tentang aesthetical experience yang berdasarkan fenomenologi. Kajian ini didasarkan pada konsep embodied perception dari Marleu-Ponty. Dalam hal ini Bordwell secara singkat berpendapat bahwa  “the spectator thinks” atau sejumlah fenomenologis menyebutnya “the spectator feels” melalui fisiknya adalah sebuah lingkaran proses dari afeksi dan pemikiran. Pada konsep Deuleuzian (salah satu perspektif dalam Film Studies), hal ini merupakan bentuk “logic sensations” yang mengarah kepada pengalaman penonton, dan menghasilkan banyak pandangan teoritis.  

Kajian cognitivism dalam film, mengembangangkan model dasar neuroscientific pada kajian penonton film masuk dalam ranah psychocinematic,  yaitu sebuah evolusi alami dari kaitan antara attention, simulasi, empati/simpati, intentionality dan emosi oleh ahli film cognitivism.   Kajian Psychocinematic mengungkapkan bahwa kajian penonton film lebih berdasarkan pada karakteistik biologis dan psikologis dari spesies manusia, dan bentuk penelitiannya lebih condong kepada penelitian empiris. Kajian yang mempertemukan disiplin ahli film, psikolog, dan brain researchers lebih banyak mengarah kepada bagaimana film dipahami dan kurang menyentuh pada estetika pada aktivitas menonton film.

Studi fenomenologi berpendapat bahwa pemahaman dasar pada hasil penemuan neuroscientific adalah tentang proses yang kompleks dari pikiran manusia yang ditemukan pada konfigurasi otak dan fungsi dari hubungan-hubungan antar neuron (neural correlates). Hubungan yang konpleks tersebut berdasarkan pada hubungan fungsional antara observation of goal-directed actions atau emosi-emosi dan sensory motor of the observer. Implikasi filosofis dan psikologis dari fungsi “visuomotor neurons” menyebabkan terobosan pada pemahaman dari hubungan pikiran dan tubuh (mind-body) dan fenomena seperti kesadaran manusia, empati, intersubjektivitas, affect, dan respon pada estetika karya ilmiah. Gabungan antara aksi dan persepsi dimungkinkan oleh embodied simulation, sebuah dasar mekanisme fungsional dengan arti dimana system tubuh-pikiran kita membuat model tentang interaksinya dengan dunia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*