browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

The Lord of Broken Heart Membalik Panggung Sosial

Posted by on August 2, 2019

The Godfather of Broken Heart, The Lord of Broken Heart, Bapak Patah Hati Nasional, adalah sebutan popular saat ini tentang sosok pencipta lagu dan penyayi popular yang sempat meredup, yaitu Didi kempot. Sebutan ini tentunya berasal dari penggemarnya yang saat ini juga dinamai bermacam-macam oleh mereka sendiri, yaitu Kempoters, Sad boys dan Sad Girls, dan juga Sobat Ambyar. Saya tertarik menulis ini karena ada fenomena menarik saat ini. Pencipta lagu ini dan juga penyanyi ini adalah penyanyi langgam Jawa yang pada era sebelum saat ini hanya dinikmati oleh orang-orang tua, karena kesan tradisionalnya. Masyarakat saat ini dibuat terkejut dengan kepopuleran yang secara tiba-tiba seniman ini setelah acara off-air nya di prakarsai oleh seorang Youtuber.
Acara tersebut menampilkan Didi Kempot khusus dari dia menyanyikan lagu-lagu ciptaannya dan juga wawancara eksklusif dengannya. Dari acara tersebut ternyata pencetus acara yaitu Youtuber, Ghofar Hilman dan juga Didi Kempot sendiri tidak menyangka akan didatangi oleh lebih dari seribu penggemar dan juga didominasi anak muda, dan dengan lantang mereka menyanyikan lagu bersama-sama dan hafal. Fenomena ini coba diterjemahkan di dalam diskusi di acara tersebut yang disiarkan di Youtube dan juga diskusi yang dilanjutkan di salah satu acara tv nasional. Gofar sebagai konten creator Youtube pada mulanya ingin membuat acara off air pertamannya dari acara Youtube nya bersama seniman music yang sebelumnya dilakukan dengan format tertutup. Ia ingin mengadakan acara tersebut di Solo dan menghubungi salah satu musisi Solo, dan ia disarankan untuk mengundang Didi Kempot yang menurut dia menarik karena lagu-lagunya selalu diputar oleh anak-anak kos ketika di kosan, walaupun di luar kos-kosan mereka adalah penggemar lagu Rock, Hip-hop, dan juga Punk. Akhirnya ia mengadakan acara ini dan ternyata sambutannya memang sangat luar biasa di luar perkiraan yang hanya seratus orang menjadi seribu orang lebih.
Menurut saya ada fenomena menarik ini yaitu dibaliknya “panggung-panggung belakang” para anak muda jaman now oleh seorang social media influencer atau populernya disebut Youtuber. Konsep “panggung” saya peroleh dari keterangan Erving Goffman (1959) dalam jurnal Urick (2014) tentang bagaimana seseorang mempresentasikan diri di masyarakat. Ketika “di depan panggung”/ front stage setiap individu memerankan peran yang berbeda dari “di belakang panggung” back stage untuk memenuhi harapan masyarakat yang bergantung pada di generasi apa mereka masuk.
Hal menarik disini adalah sebelum acara Youtuber ini dibuat, pemuda-pemudi jaman now ini memiliki backstage atau area “belakang panggung” yang sama yaitu mereka memutar lagu didi kempot apalagi saat mereka patah hati. Hal ini kontras dengan area “depan panggung” atau front stage mereka yang mereka tunjukkan dengan menjadi penggemar music-musik yang lebih mencerminkan anak muda, seperti rock, punk, dan hip-hop. Kejelian pembacaan youtuber terhadap fenomena ini akhirnya memunculkan acara di Youtube nya dan langsung mendapat sambutan luar biasa dari para generasi jaman now ini. Seketika itu mereka tidak malu-malu lagi membalik “panggung” mereka masing-masing berbaur sesama mereka di acara tersebut, dan mengubah backstage menjadi front stage. Apabila ingin lebih memahami teori yang dimiliki Goffman ini ia melanjutkan bahwa tiap orang ingin selalu memenuhi harapan positif orang disekitarnya untuk mendapatkan manfaat untuk dirinya.
Analisis ringan ini tentu saja menurut saya bisa dikembangkan dengan lebih dalam kedalam penelitian-penelitian kedepan seperti peran social media influencer di masyarakat, perkembangan teori dramaturgy di era industri 4.0, Konten media pembalik struktur masyarakat, dan banyak lagi yang bisa diawali dari fenomena ini. Selamat berkarya di dunia ilmiah, semoga tulisan ringan ini bisa menginspirasi entah dalam meneliti atau mempelajari teori-teori sosial lebih jauh.

(Muhammad Irawan Saputra)

Sumber:

Urick, M.J. (2014). The Presentation of Self: Dramaturgical Theory and Generations in Organizations. Journal of Intergenerational Relationships, 12:398–412. Routledge.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*